Senin, 25 Februari 2013

Photo Contest Kolaborasi RC Semarang Bojong-Kopi Luwak-Mata

Berkolaborasi dengan kopi luwak dan Mata,RC Semarang Bojong SUKSES menggelar Photo Contest di Mall paragon pada tanggal 25 Februari 2013.







Thema Photo Contest : FRIENDSHIP 7 COFEE

Kamis, 13 Desember 2012

Pelantikan Rotarian Nurina Mustika

Rtn Nurina Mustika,clasification Cosmetic akhirnya dilantik sebagai Rotarian di Rotary Club Semarang Bojong oleh Presiden Hananta Budianto.Disamping cosmetic,Rtn Nurina Mustika juga pernah sebagai atlit Taekwondo yang mewakili Indonesia pada event International diantaranya Pekan Mahasiswa ASEAN di Thailand  tahun 2008.Selamat Bergabung,Selamat melakukan Pelayanan dan Sukses Bersama Rotary Club Semarang Bojong.





Kamis, 20 September 2012

Pelantikan Rtn Al Sudjono

RC Semarang Bojong Mendapat anggota baru yaitu Rtn Al Sudjono,clasification Banker,sebagai Branch Manager Bank Maspion Semarang Branch






Jumat, 07 September 2012

Pelantikan Rtn Junias Hidayat

Kembali,member baru bergabung dengan Rotary Club Semarang Bojong.
Rtn Junias Hidayat,Clasification Furniture Producer.





Kamis, 26 Juli 2012

BOARD CHANGE OVER Past Pres Purnomo Iman Santoso ke Pres Hananta Budianto

Board Change Over dari Past Presiden Purnomo Iman Santoso kepada Pres Hananta Budianto dilaksanakan di Oits Resto pada tanggal 26 Juli 2012.






Selasa, 21 Februari 2012

BUKA KADO - PAMERAN SENI RUPA "TOEKAR TAMBAH"

Buka Kado-Harian Suara Merdeka tanggal 21 Februari 2012

PENGUSAHA Rina Ciputra Sastrawinata terkejut usai membuka Pameran Seni Rupa “Toekar Tambah” di Galeri Semarang, Minggu (19/2). Pemilik galeri Chris Darmawan memberi dia kado yang dibungkus rapi berbentuk segi empat. Presdir Ciputra Artpreneur Center tersebut terlihat senang menerimanya.

Tapi saat diminta untuk membukanya, dia sempat mengelak. “Dalam budaya kita, sepertinya tidak biasa untuk membuka kado di depan yang memberi,” ujarnya sambil tersenyum. Lalu ditimpali oleh perupa Mella Jaarsma, “Di Belanda, sudah biasa membuka kado langsung setelah diterima.”

Kontan percakapan itu membuat hadirin tertawa. Rina akhirnya membuka kado tersebut. Dan, perempuan itu bertambah gembira setelah mengetahui isinya lukisan Galeri Semarang tampak depan, karya salah seorang perupa Yogyakarta. (Adhitia A-71)

Senin, 20 Februari 2012

Pameran Seni Rupa ”Toekar Tambah”

Pameran Seni Rupa ”Toekar Tambah”-Harian Suara Merdeka tanggal 20 Februari 2012
Bicara Budaya Peranakan lewat Hasil Riset

DARI penelitian di dua daerah, Kabupaten Rembang, terutama di Lasem dan Kota Semarang, dua perupa dari kota kelahiran yang berbeda melahirkan pameran seni rupa yang sangat memikat.

Kedua perupa tersebut yakni Nindityo Adipurnomo yang kelahiran Semarang dan Mella Jaarsma yang berasal dari Emmeloord, Belanda.

Mereka mulai Minggu (19/2) memajang karyanya di Galeri Semarang pada pameran yang bertajuk ”Toekar Tambah.”
Pembukaan pameran yang akan berlangsung hingga 9 Maret kemarin dihadiri ratusan orang. Dua pengusaha ternama, Rina Ciputra Sastrawinata dan Harjanto Halim didaulat untuk membuka secara resmi.

Halim memiliki cara unik dalam melakoni perannya. ”Saya membawa SKBRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia) dan juga surat ganti nama milik orang tua saya. Dulu masyarakat Tionghoa dekat dengan dokumen itu terutama pada zaman Orde Baru,” ujar pria yang dikenal sebagai budayawan Tionghoa sembari menunjukkan surat-surat itu.

Sementara Rina mengaku, dirinya telah lama berkenalan dengan dua perupa yang mendirikan Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta itu. Dia mengungkapkan, mereka dikenal di dunia seni rupa dalam negeri dan di mancanegara.

Rina juga memberi apresiasi atas metode kerja keduanya yang selalu berdasar hasil riset. ”Toekar Tambah” memang bercerita tentang budaya peranakan. Beberapa karya menunjukkan asimilasi budaya Tionghoa dengan Jawa menurut perspektif estetika kedua perupa tersebut. Bahkan, Nindityo dan Mella kemarin secara khusus mengajak beberapa orang untuk terlibat langsung dalam karya.
Ada perempuan yang duduk di atas meja dengan kaki mengenakan bakiak. Sementara di meja tersebut dipajang beberapa alat pernak-pernik perempuan.

Menurut Nindityo, dia terinspirasi oleh sejarawan Ong Hok Ham untuk menyusun ulang refleksi-refleksi sejarah sekaligus menangkap tanda-tanda masa depan perempuan melalui ungkapan meja persembahan pada leluhur.
Pemilik Galeri Semarang Chris Darmawan menambahkan, studi dan penelitian tentang peranakan di Indonesia boleh dikatakan sangat langka. Hanya sedikit buku yang mengulas konteks sejarah dan kebudayaannya.

Pihaknya menerbitkan sebuah buku untuk menyertai pameran tersebut dan berharap tak hanya akan berguna di dunia seni rupa tetapi juga menjadi salah satu sumbangan budaya dari dunia seni rupa terhadap masyarakat. (Adhitia Armitrianto-39) (/)